Jumat, 01 Januari 2010

Danar, Pemulung Cilik Tanjung Priok

Danar (13), adalah seorang pemulung cilik yang kesehariannya mengumpulkan botol – botol dan gelas – gelas plastik bekas yang ada di tempat sampah maupun di jalan – jalan, hal ini selalu Danar lakukan setiap harinya dari pagi hingga malam tanpa rasa lelah dan dengan penuh suka duka demi mendapatkan sesuap nasi serta memenuhi kebutuhan hidupnya.



Keseharian Pemulung Cilik

Selasa, 22 Desember 2009

Analisis Pameran Worldpress Photo 09

Jika dikaitkan pada metode EDFAT (metode pemotretan untuk melatih cara pandang melihat sesuatu dengan detil yang tajam), yang memiliki arti Entire, Detail, Frame, Angel, dan Time, penulis melihat pada karya Carlo Gianferro yang dipamerkan dalam worldpress photo 2009. bahwa terdapat empat frame foto dengan suasana objek yang dipamerkan secara berbeda, dan menurut penulis foto dari Carlo tersebut merujuk pada Photo Story dengan jenis Photo Essay, dimana pada masing - masing gambar tersebut menceritakan tentang kehidupan masing - masing dari subjek yang diambil oleh Carlo. Jika dijabarkan dan dijelaskan dari masing - masing gambar tersebut adalah sebagai berikut :
  • Pada gambar satu terlihat ada seorang ibu yang sedang berada di kamar tidurnya, dengan suasana cat yang meriah, hal ini dapat digambarkan bahwa si ibu tersebut dari semua ruangan di rumahnya yang dimilikiny, kamar tidurnya lah yang paling disukainya dan dapat membuatnya bahagia jika berada di ruangan tersebut.
  • Pada gambar kedua terlihat ada seorang ibu muda yang sedang berada di ruang perabotan piring - piring dan sejenisnya yang terlihat sangat tertata rapih, jika kita lihat gambar tersebut, dapat digambarkan bahwa ibu muda tersebut memang suka mengkoleksi barang pecah belah lalu dari ruangan tersebut dapat kita lihat dari kebersihannya bahwa tempat tersebut memang merupakan tempat koleksi dari ibu muda tersebut.
  • Pada gambar ketiga terlihat bahwa ada sebuah keluarga yang sedang berkumpul disebuah ruang keluarga bersama seekor anjing, hal ini dapat digambarkan bahwa subjek dari keluarga tersebut mementingkan sebuah keharmonisan sebuah keluarga dan menjadikan ruangan keluarga menjadi tempat favorit untuk mereka berkumpul.
  • Pada gambar keempat terlihat bahwa ada seorang pria tambun yang sedang berada di sebuah dapur, hal ini dapat terlihat dari diri si pria tambun tersebut bahwa ia hobi makan sehingga menjadikan dapur yang sekaligus menjadi ruang makan tersebut adalah tempat favoritnya.

Rabu, 16 Desember 2009

Teori Semiotika Roland Barthes

Semiotik Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia).
Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. “Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama.
1. signifier

(penanda) 2. signified
(petanda)

3. denotative sign (tanda denotatif) 4. CONNOTATIVE SIGNIFIER

(PENANDA KONOTATIF) 5. CONNOTATIVE SIGNIFIED
(PETANDA KONOTATIF)

6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

Gambar 2. Peta Tanda Roland Barthes

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berbeda dengan para ahli yang sudah dikemukakan di atas, Charles Sanders Peirce, seorang filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme melalui kajian semiotik. Bagi Peirce, tanda “is something which stands to somebody for something in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant (lihat gambar 3). Atas dasar hubungan ini, Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: sintaksis semiotik, semantik semiotik, dan pragmatik semiotik. Sintaksis semiotik mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama dalam membentuk keutuhan wacana iklan. Semantik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana. Pragmatik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya foto. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer, hubungan berdasarkan konvensi masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign, representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Dicent sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. Sedangkan argument adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu.

Senin, 14 Desember 2009

Kesenian Tattoo Kota Tua

Tugas Fotografi Jurnalistik
Photo Story (Dokumenter)
Tema :
"Hubungan Antara Manusia dengan Kota Tua"

Selasa, 08 Desember 2009

Tugas Fotografi Jurnalistik

Usia Bukan Hambatan Untuk Melakukan Hobi

Sumarno (71), walaupun diusianya yang semakin senja, tidak menjadi hambatan baginya untuk tetap aktif dalam mengikuti kegiatan komunitas funbike Jakarta atau FB Jak yang berpusat di Monas, Minggu (01/11/09). Kegiatan bersepeda kini tengah digalakkan kembali di kota - kota besar, karena mampu menekan tingkat polusi.

Photogenianya yaitu :
  1. Pose : Diam dan menatap ke depan, Pada foto diatas objek digambarkan detail sehingga terlihat dari wajah sampai dada
  2. Shot Size : Medium
  3. Angle : Eye Level
  4. Penempatan Subjek : Ditengah
  5. Lighting : Mid Key
  6. Lensa : Normal
  7. Fokus : Deep Fokus
  8. Objek Pendukung : Pakaian untuk bersepeda dan Background orang - orang yang bersepeda

Rabu, 02 Desember 2009